Home > Nasional

ITS Sanksi Rektor ITK Terkait Tulisan Penutup Kepala Manusia Gurun

Budi Santoso tidak bisa mengajar, membimbing mahasiswa, maupun melakukan pengabdian masyarakat atas nama ITS.
Rektor Institut Teknologi Kalimantan Prof Budi Santosa Purwokartiko

JAKARTA -- Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Mochamad Ashari menjatuhkan sanksi kepada Guru Besar Teknik Industri ITS Budi Santosa Purwokartiko yang sekarang menjabat rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Hukuman itu imbas artikel yang dibuat Budi pada medio April 2022 yang bermuatan suku, agama, ras, antargolongan (SARA) hingga membuat gaduh di masyarakat.

Budi pun menyampaikan sanksi yang diterimanya melalui akun Facebook pada Jumat (1/7/2022). Dari informasi yang berhasil dihimpun, sanksi itu turun setelah Dewan Kehormatan Profesi Dosen menyidangkan masalah itu. Kemudian, hasilnya dirapatkan di Majelis Wali Amanat (MWA) ITS, Senat Akademik, dan rektor. Adapun Ketua MWA ITS dijabat Prof M Nuh.

"Tadi siang menerima SK Rektor ITS. Saya diberi sanksi pembinaan berupa pembebasan tugas Tri Dharma selama satu tahun ke depan, dan saya tidak diberi tunjangan kinerja oleh ITS," kata Budi dalam statusnya dikutip di Jakarta, Sabtu (2/7/2022).

Imbas surat keputusan (SK) Rektor ITS membuatnya tidak bisa mengajar selama setahun ke depan. Budi mengakui, hukuman itu diterimanya sebagai konsekuensi tulisan yang dibuatnya, yang salah satunya berisi mahasiswa tidak diloloskan beasiswa LPDP akibat memakai penutup kepala manusia gurun hingga memicu kontroversi di mata publik.

"Artinya, saya tidak bisa mengajar, membimbing mahasiswa, maupun melakukan pengabdian masyarakat atas nama ITS selama satu tahun ke depan. Itu semua akibat tulisan saya di Facebook yang viral," katanya.

Hanya saja, Budi mempertanyakan mengapa ia tidak diberi kesempatan mengajukan argumen terkait tulisannya. Ketika mendapat hukuman seperti itu, ia pun akhirnya mencoba legowo. "Tidak ada bandung atau pembelaan. Ya begitulah nasib," kata Budi.

Berikut isi tulisan Budi Santoso yang dibuat pada 27 April 2022:

Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa. Mereka adalah anak-anak pinter yang punya kemampuan luar biasa. Jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5 persen sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8, dan 3.9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5, bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145, bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100). Luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan, dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagainya.

Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang. Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada dua cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada dua tidak hadir. Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open mind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju, seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.

× Image