Dua Kapal Induk Merapat, Pentagon Berpotensi Serang Iran

WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) dengan cepat memperluas jejak militernya di Timur Tengah, mengerahkan ribuan tentara, pembom strategis, sistem pertahanan rudal, dan aset angkatan laut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Pengerahan itu dilakukan setelah Presiden Donald John Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran selama wawancara yang disiarkan secara nasional.
Dalam wawancara di NBC News, Trump berkata, "Jika mereka tidak membuat kesepakatan, akan ada pemboman," mengacu pada ambisi nuklir Iran. Dia menambahkan, "Pejabat AS dan Iran sedang berunding," yang menandakan bahwa diskusi diplomatik jalur belakang sedang berlangsung.
Pernyataan itu menyusul tekanan yang meningkat selama berpekan-pekan terhadap Iran untuk kembali ke perundingan dan menghentikan segala upaya untuk memperoleh senjata nuklir. Komentar Trump bertepatan dengan lonjakan aktivitas militer AS di seluruh wilayah.
Lebih dari 40 ribu tentara AS kini dikerahkan di wilayah tersebut. Kapal Induk USS Harry S Truman saat ini sedang beroperasi di Laut Merah, dan USS Carl Vinson dilaporkan sedang dalam perjalanan untuk memperkuat kehadiran angkatan laut AS. Citra satelit telah mengonfirmasi keberadaan enam pesawat pengebom siluman B-2 Spirit di Diego Garcia, pangkalan militer AS terpencil di Samudra Hindia yang sering digunakan untuk operasi penyerangan.
Selain itu, pesawat pengebom strategis termasuk B-52H tetap ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Lima pesawat angkut udara C-5M Super Galaxy baru-baru ini mengirimkan kargo ke instalasi yang sama, yang secara luas diyakini mencakup sistem pertahanan rudal MIM-104 Patriot atau THAAD. Penerbangan angkut C-17 lainnya dilaporkan mengirimkan Patriot ke Pangkalan Udara Isa di Bahrain.
Kekuatan udara di kawasan tersebut kini mencakup B-52, B-2, A-10, F-15E, F-35, dan pesawat nirawak MQ-9 Reaper, yang membentuk campuran komprehensif dari kemampuan serangan, dukungan, dan ISR. Bulgarian Military pada Kamis (3/4/2025), melaporkan, penempatan berbagai alutsista yang luas, yang mencerminkan peningkatan sebelum operasi AS sebelumnya di kawasan tersebut, mencerminkan apa yang digambarkan oleh pejabat pertahanan sebagai "kesiapan darurat."
Meskipun tidak ada perintah yang diberikan untuk serangan ofensif, skala dan posisi aset tersebut sangat menunjukkan Pentagon sedang mempersiapkan berbagai hasil—termasuk kemungkinan pelaksanaan serangan presisi terhadap infrastruktur nuklir Iran. Pernyataan Trump menggarisbawahi posisi pemerintahan: Iran harus memilih antara negosiasi baru atau menghadapi konsekuensi "yang belum pernah mereka lihat sebelumnya."